Bobroknya Pelayanan Transportasi


Mudik tahun ini benar-benar memberikan pengalaman berharga. Pengalaman tersebut berakhir pada sebuah kesimpulan, pelayanan transportasi pada saat mudik benar-benar buruk. Hal ini sangat terasa pada pelayanan darat. Bagaimana kesimpulan tersebut muncul?

Cerita buruk ada dalam setiap sisi perjalanan. Mulai dari berangkat, di perjalanan, hingga sampai tujuan. Semua hampir tidak ada kontrol dari pemerintah. Baik itu kualitas angkutannya maupun pengaturan jalannya. Cukup banyak bus yang beroperasi (menurut saya) tidak layak melayani penumpang. Kondisi bus yang asal berani dan bisa jalan bisa melayani penumpang. Bisa dibayangkan, sebuah bus AC yang semua kacanya tertutup, penuh penumpang, AC-nya tidak dihidupkan dalam waktu yang cukup lama, keringat penumpang bercucuran, dan mesin hidup. Menyesakkan dan membahayakan kesehatan serta keselamatan penumpang. Tidak ada seorang petugaspun yang memperhatikan hal tersebut.

Berikutnya adalah jaminan keselamatan di jalan atau asuransi jiwa. Banyak bus yang beroperasi adalah bus pariwisata. Dengan tanpa karcis atau bukti pembayaran, semua penumpang membayar ongkos di atas harga umum. Pada fase ini juga tidak ada seorang petugaspun yang memperhatikan. Dalam hal ini negara benar-benar tidak tegas menentukan tarif. Tarif yang ditetapkan adalah tarif atas dan bawah. Pemerintah memberikan ijin kenaikan harga (meskipun harga bensin tetap saja sama). Pemerintah sekali lagi berpihak bukan pada masyarakat luas. Mana ada pengusaha yang mengambil tarif bawah? Kapan lagi bisa mengeruk keuntungan tinggi kalau tidak saat lebaran? Karcis, sesobek kertas kecil, merupakan bukti pembayaran pembelian jasa angkutan. Dalam setiap harga yang dibayarkan ada premi asuransi. Ketika karcis tersebut tidak diberikan, otomatis penumpang tidak punya alat bukti kepada pihak asuransi ketika terjadi kecelakaan di jalan.

Selain itu, jaminan ketepatan waktu (dengan kemacetan sebagai alasannya) tidak lagi diperhatikan. Begitu penumpang sudah membayar lunas semuanya, maka pelayananpun terkesan ‘semau gue’. Mau berhenti berapa kali, dimanapun, penumpang tidak penah tahu atau diberi tahu. Mau dapat minuman atau tidak, penumpang juga tidak dipedulikan.

Kemacetan-kemacetan yang terjadi merupakan indikator sederhana bahwa antisipasi kurang dilakukan oleh pemerintah. Pengaturan jalur, pengaturan naik turunnya penumpang, dan lain-lain, kesannya terserah pada pengguna jalan. Petugas-petugas yang ditempatkan terkesan ogah-ogahan mengatur lalu lintas. Terlebih jika di tempat tersebut sudah ada lampu lalu lintas. Semua diserahkan nyala lampu saja, meskipun kemacetan panjang terjadi di satu sisi, sementara di sisi lain sangat longgar. Terlebih ketika malam Idul Fitri, ketika banyak orang keluar dengan berbagai urusan, baik belanja, takbir keliling, ataupun sekedar keluar sambil membunyikan petasan di jalanan.
Jalur perjalanan pemudik, bisa ditentukan langsung oleh pihak pengusaha (crew) bus. Penumpang tidak diberi tahu bus akan lewat mana saja. Jika pada perusahaan yang resmi, jalur tersebut sudah dipastikan. Tetapi pada bus pariwisata yang ikut mengangkut pemudik ini tidak pasti. Bisa lewat manapun. Tidak ada kontrol petugas atau pemerintah.

Sekedar membayangkan, jika pengaturan dan pelayanan angkutan darat seperti angkutan udara alangkah menyenangkan ya. Meskipun pada pelayanan angkutan udara ada kelemahan pemerintah yang juga hampir sama, yaitu tidak tegas menentukan tarif. Namun pelayanan dan kenyamanan penumpang cukup dilayani dengan baik. Bisakah hal tersebut terrealisasi?

Posted by Setyo Dwi Herwanto from BlackBerry.

One response to “Bobroknya Pelayanan Transportasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s