Mengaum Dalam Diam


“Mengaum dalam diam”, itulah kalimat yang terlontar ketika membaca tiga buah karya memoar perjalanan hidup tiga orang yang “diasingkan” oleh kondisi politik yang mereka sendiri tidak tahu kejadian sebenarnya. Karya itu adalah, Kisah-kisah dari Tanah Merah (Cerita Digul, Cerita Buru) karya Tri Ramidjo, Kisah Perjalanan karya Syarkawi Manap, dan Bulembangbu (Kisah Pahit Seorang Tahanan G.30.S) karya Nursyamhari.

Ketiga karya tersebut disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, dan sederhana. Namun ketiga karya tersebut mampu menyajikan informasi-informasi yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah terungkap di masyarakat selama 45 tahun ini. Baik selama kekuasaan orde baru, maupun pasca reformasi. Ketiga karya merupakan karya yang luar biasa. Bukan saja karena telah mengungkapkan berbagai data, namun karya ini disampaikan dan ditulis oleh orang-orang yang mengalami kejadian yang diceritakan. Sehingga karya ini terbebas dari tafsir atau pemaknaan yang berbeda atas data yang disampaikan. Cerita yang disampaikan detail, dan mampu membawa pembaca ke dalam peristiwa yang diceritakan.

Kisah-kisah dari Tanah Merah (Cerita Digul, Cerita Buru) karya Tri Ramidjo menceritakan perjalanan hidupnya selama di ”pembuangan” tanah Digul dan Pulau Buru. Kisah hidup yang harus dijalani tanpa tahu apa sebabnya. Tri Ramidjo, yang waktu itu masih bayi merah, dibawa oleh orang tuanya yang dibuang oleh belanda ke Tanah Digul. Masa kanak-kanak dijalaninya bersama anak-anak lain yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Masa kanak-kanaknya di Tanah Digul, semasa pengasingan oleh Belanda, dijalani dengan suasana yang menyenangkan. Sampai masa penjajahan Jepang tiba, beliau merupakan lulusan terbaik Sekolah Pelatihan Perwira AD. Peristiwa tahun 1965 membawanya pada cerita penderitaan hidup di Pulau Buru. Berbekal ajaran dan pengetahuan yang diterima dari orang tuanya baik selama di Digul maupun di Pulau Jawa membuatnya mampu mengatasi berbagai kesulitan yang dialaminya dalam ”Proyek Kemanusiaan” masa pemerintahan Presiden Suharto. Meski begitu beliau juga tidak luput dari berbagai siksaan yang diberikan. Ketabahan dan kecintaannya pada keluarga dan negara membuatnya bertahan hingga masa ”Pulau Buru” selesai dijalaninya.

Bulembangbu (Kisah Pahit Seorang Tahanan G.30.S) karya Nursyamhari banyak menyampaikan peristiwa dan data-data yang lengkap terkait dengan peristiwa yang dialami selama perjalanan penahanannya di Budi Kemuliaan, RTC Salemba, Nusa Kambangan, dan Pulau Buru. Tidak berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh Tri Ramidjo dalam ”Proyek Kemanusiaan” pasca 1965. Nursyamhari-pun mendapatkan penyiksaan yang cukup detail diungkapkan dalam karya ini. Beliau tidak tahu apa kesalahannya hingga menjalani peristiwa hidup yang menyakitkan tersebut. Beliau hanya seorang pegawai rendahan pada sebuah surat kabar ibu kota. Beliau hanya sebagai tukang distribusi koran pada perusahaan tempatnya bekerja. Nilai-nilai kemanusiaan, pengalaman hidup, dan pengetauan banyak didapatkannya selama masa penahanannya. Rasa cinta kepada keluarga dan teman-teman sependeritaan membuat beliau tetap bertahan untuk tetap hidup dan memiliki prinsip ”sopo becik ketitik, sopo olo ketoro, sing salah bakal seleh, sing temen bakal tinemu”. Di sisi lain kepedihan yang dialaminya, Nursyamhari memiliki kebanggaan tersendiri. Bahwa beliau dipenjarakan akibat pengkhianatan seseorang, tapi tak seorangpun yang celaka karena mulut dan perbuatannya. Sebuah nilai yang selalu dipegang teguh oleh beliau.

Berbeda tempat dan penyiksaan yang dialami oleh dua orang tersebut di atas, dalam Kisah Perjalanan yang ditulisnya Syarkawi Manap menyampaikan kejadian yang dialaminya semasa di ”pengasingan”. Beliau tak dapat pulang ke negerinya sendiri. Beliau harus bertahan di negeri orang dengan berbagai resiko yang dihadapi. Baik resiko yang dihadapinya dari pemerintah negerinya sendiri (Indonesia) maupun dari negara dimana beliau berada waktu itu. Secara fisik (seperti halnya yang dialami oleh Nursyamhari dan Tri Ramidjo) beliau memang tidak merasakan kekejaman penguasa Negeri Indonesia pasca kejadian 1965, namun secara batin beliau mendapatkan penyiksaan yang sama. Dalam buku yang ditulisnya ini, beliau mengungkapkan secara rinci peristiwa yang dialaminya dari satu tempat ke tempat lain selama ”perjalanan”. Pengetahuan, pengalaman, dan nilai-nilai kemanusiaan banyak didapatkannya sepanjang perjalanan. Dari tempat yang berbeda, dari orang yang berbeda, dan dari negara yang berbeda. Kecintaannya terhadap negara Indonesia dan cita-cita mulia mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera senantiasa selalu dipegangnya meskipun secara fisik kewarganegaraan beliau saat ini adalah Swedia.

Ketiga buku tersebut benar-benar mencengangkan ceritanya. Kecermatan dalam menulis waktu, tempat, suasana, tokoh-tokoh, dan peristiwa yang dialami mampu membuka mata pembaca. Bahwa ada peristiwa yang lain yang terjadi di tempat lain pada waktu yang sama dan karena sebab yang sama. Mereka dipenjara tanpa melalui pengadilan, mereka diasingkan tanpa tahu sebabnya, mereka  dibuang oleh bangsanya sendiri, mereka disiksa tanpa diberi kesempatan membela diri, dan masih banyak

Meskipun selama berlangsungnya ”Proyek Kemanusiaan” mereka terbungkam, namun semangat dan hati mereka tetaplah berteriak. Ibarat singa yang dibungkam, aumannya tak terdengar sama sekali. Melalui tulisan ini, saat ini auman itu terdengar sangat jelas.

Ketiga buku ini memberikan informasi dan pandangan lain terhadap ”catatan” sejarah selama ini. Kesaksian hidup yang dituliskannya memberikan ratusan data dan informasi atas apa yang sebenarnya telah terjadi. Cita-cita kemanusiaan dan membangun negara dengan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, penuh cinta kasih, tanpa dikotori oleh korupsi, pengkhianatan, dan perbuatan-perbuatan yang menyengsarakan rakyat Indonesia tetap tumbuh subur di hati mereka. Pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 tetap menjadi pegangan perjuangan  mereka. Semua itu tetap dipertahankannya hingga tulisan ini dibuat. Bahkan ”mungkin” hingga akhir hayatnya. Semoga cita-cita luhur tersebut akan tercapai di Negeri Indonesia ini suatu saat. Amin

Disampaikan dalam Peluncuran Buku dan Diskusi Sastra

“Dari yang dibuang dan dibungkam”

Solo, 2 Juli 2010

8 responses to “Mengaum Dalam Diam

  1. Kategori: Artikel, Karya. Tag: Kritik Sastra.
    Sing bener apa mas, artikel, karya, atau kritik sastra? Menurutku ini tepatnya Resensi Singkat!🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s